KISAH ELANG dan AYAM
Suatu hari sebuah telor elang terjatuh dari sangkarnya, untungnya telur itu tidak pecah namun ditemukan oleh induk ayam dan disangka sebagai telur miliknya.
Berhari-hari telur Elang itu dierami bersama telur-telur ayam yang lain, hingga akhirnya tibalah saat telur-telur itu menetas. Sang elangpun ikut menetas bersama anak-anak ayam yang lain tanpa ia tahu siapa identitas dirinya sebenarnya. Yang ia tahu adalah ia hanyalah seekor anak ayam karena menetas bersama dengan anak-anak ayam lainnya dan dirawat juga oleh induk ayam.
Hingga suatu saat elang dan anak-anak itu tumbuh dewasa dan mulai mencari makanan sendiri.
"Lihat apa itu yang ada di langit! Aku ingin bisa terbang seperti mereka.", Kata anak elang berbicara kepada anak-anak ayam lain.
"Ah, kau bermimpi, mana mungkin seekor ayam bisa terbang seperti elang yang ada di langit itu! Sudahlah takdir kita memang mencari makan di sini dan tidak bisa terbang tinggi seperti mereka." Jawab anak-anak ayam lain sambil menertawakan sang anak elang.
Sang anak elang belum tau kalau dia bukanlah ayam. Dia pun merenung dan memikirkan perkataan teman-temannya. Setiap hari ia berpikir untuk terbang, namun teman-temannya selalu menertawakannya. Sang elang pun mulai menerima takdirnya sebagai ayam, walaupun sebenarnya ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk terbang.
Namun karena lingkungan dan teman-temannya menganggapnya sebagai ayam yang tidak bisa terbang tinggi. Maka ia pun tidak pernah mencoba untuk terbang dan perlahan-lahan mulai percaya dan hingga dewasa hidup sebagai ayam yang tidak bisa terbang layaknya elang.
***
Sahabat,
Dalam hidup, ini setiap orang pasti pernah punya impian. Ada yang berusaha mengejar impiannya, ada juga yang tidak berusaha mengejarnya karena merasa dirinya tidak mampu.
Namun adakalanya kita sebenarnya memiliki kemampuan itu, namun kita terlalu banyak mendengarkan pendapat orang lain yang meragukan kemampuan kita. Akibatnya kitapun berhenti mengejar impian kita tersebut.
Sahabat,
Jangan pernah biarkan pendapat seseorang tentangmu membuatmu berhenti untuk mengejar impianmu. Lebih bahaya lagi, jika pendapat seseorang itu membuat dirimu berubah menjadi seseorang yang kamu tahu itu bukan dirimu.
"Because Our Journey is the Never Ending"
Farhan Fathurrohman \ FARHAN FATHURROHMAN
Selasa, 09 Mei 2017
Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40. Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal,sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan - suatuproses transformasi yang panjang selama 150 hari. Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang keatas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung. Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang barusudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi! ... Sahabat, Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan. Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatanuntuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan. Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa atas diri anda. Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita.Karena Anda adalah elang-elang itu.
Motivasi dari 2 ekor burung
Fabel Motivasi - Elang dan Kenari
Di sebuah pohon di tengah hutan bertenggerlah dua ekor burung dari dua keluarga berbeda.
Yang satu adalah seekor elang dengan tampang yang sangar sementara yang satunya lagi adalah seekor kenari manis. Sungguh keanehan memang melihat keduanya bertengger di satu pohon.
Namun si Elang memang sedang tak ingin berburu dan ia hanya membuka obrolan dengan cerita-ceritanya yang menyombongkan diri sebagai burung terhebat di sejagad raya.
Kenari kecil yang tak ingin memancing dan cari masalah dengan Elang yang lebih gagah darinya tentunya berusaha untuk tak membantah perkataan Elang. Namun walau begitu tak luput pula Kenari memberikan nasehat pada Elang agar tidak terlalu sombong, sebab sehebat-hebatnya dia dalam keluarga burung, masih ada lagi binatang dari keluarga lain yang lebih hebat, dan sehebat-hebatnya binatang tersebut, masih ada lagi makhluk-makhluk yang lebih hebat darinya. “Di atas langit masih ada langit,” kata Kenari meminjam istilah anak cucu Adam dan Hawa yang sering didengarnya saat lagi berkelana.
“Apa! Maksudmu, kau mau bilang bukan aku yang terhebat?” hardik Elang.
“Tentu kaulah yang terhebat, Elang...” ujar Kenari sedikit takut, “...tapi hanya di dalam keluarga unggas. Jadi alangkah baiknya jika kau tak terlalu sombong.” “Apalagi tak selamanya sesuatu itu dinilai dari seberapa kuat tenagamu atau seberapa gagah tubuhmu,” ujar Kenari lagi menambahkan.
“Lancang sekali kau, hei, Kenari kecil!” “Jangan hanya besar mulut saja kau di situ! Baiklah, aku ingin lihat apakah bualanmu tentang kekuatan tenaga dan gagahnya tubuh tak ada nilainya itu benar apa adanya. Aku tantang kau!”
“Wahai, Elang yang perkasa, sungguh tak berani aku yang kecil ini melawan dirimu...” lirih Kenari.
“Hah! Bukan hanya kecil kaupun penuh bualan rupanya, Kenari! Sudah tahu aku yang terhebat tapi masih tak mau juga kau mengakuinya!”
Terpancing dengan kesombongan Elang dan ingin menyadarkannya, akhirnya Kenari pun menerima tantangan Elang.
“Baiklah, Elang, tunjukkan kebolehanmu.” “Kau lihat anak Tupai yang sedang bersembunyi di balik semak-semak di sana itu?” ujar Kenari memulai duel mereka. “Siapa diantara kita yang berhasil membawa anak Tupai itu ke atas pohon ini, maka dialah pemenangnya. Dan jika kau memang menang, wahai Elang, maka aku akan mengakui kehebatanmu yang tiada taranya.”
“Hahahaha...” sontak Elang terbahak-bahak mendengar tantangan Kenari. “Kau menantangku siapa yang berhasil membawa anak Tupai itu ke atas pohon? Kau ini gila atau bodoh?” cibir Elang. “Dengan badanmu sekecil itu, mana mampu kau mengalahkanku!”
Dimulailah duel mereka dengan Elang yang mencoba lebih dahulu untuk menangkap si anak Tupai.
Dari atas Elang menukik dengan tajam mencoba menerkam anak Tupai, namun anak Tupai yang cukup cekatan ini mampu menghindari terkaman Elang. Ia berhasil sembunyi lebih jauh ke dalam semak-semak. Dengan suara lantangnya yang menyeramkan, Elang berkoak-koak mencoba menakuti anak Tupai agar dia keluar dari tempat persembunyiannya. Dia gagal, si anak Tupai tertegun takut di persembunyiannya dan tak berani bergerak sedikit pun.
Elang mencoba menyibak semak-semak agar bisa masuk dan menerkam anak Tupai tersebut, namun semak-semaknya terlalu lebat, semakin Elang mencoba menerjang masuk semakin tubuhnya justru terluka akibat goresan dahan. Setelah hampir dua jam tanpa hasil dan hanya kelelahan yang didapatnya, akhirnya Elang pun kembali ke pohon tempat Kenari menunggu.
“Tupai itu terlalu penakut! Memanfaatkan alam untuk melindunginya,” ujar Elang kesal dan Kenari hanya tersenyum-senyum mendengarnya.
“Kau lihat, Elang, bahkan anak Tupai kecil pun mampu mengecohmu. Tak selamanya semua dinilai dari kekuat―”
“Tutup mulutmu, Kenari! Coba kau sendiri melakukannya, jika aku saja tak sanggup apalagi dirimu!” “Hah! Ingin melucu kau rupanya...” hardik Elang.
“Baiklah, baiklah, wahai Elang. Aku akan pergi mencobanya sekarang,” ujar Kenari sembari terbang pelan meninggalkan Elang,
Kenari hinggap di atas dahan pohon yang tak jauh dari semak-semak tempat anak Tupai terlihat terakhir bersembunyi. Dari atas Kenari mencoba memperhatikan ke semak-semak mencari si anak Tupai, dan benar saja... dilihatnya anak Tupai sedang mengintip-intip keadaan di luar, rupanya ia sedang mencari tahu apakah Elang masih ada di luar ataukah sudah pergi.
Kenari pun mulai bersiul melantunkan nyanyiannya. Ia mencoba menarik perhatian anak Tupai dengan kemerduan suaranya.
Dari dalam semak-semak, anak Tupai bisa mendengarkan dengan jelas kicauan Kenari yang memang indah. “Suara apa itu? Indah sekali...” tanya Tupai penasaran. Ia pun semakin mendengarkan kicauan Kenari dengan seksama dan lambat laun iapun jadi terbuai dan terhipnotis karenanya.
Perlahan-lahan anak Tupai berjalan keluar dari persembunyiannya mencoba mencari asal suara indah itu. Ia sangat penasaran sekali rupanya!
Kenari yang memang terus memperhatikan si anak Tupai mulai tersenyum melihat pancingannya ternyata berhasil. Si anak Tupai yang tadinya takut dengan koaran suara Elang yang memekakkan telinga, kini telah terbuai dengan kicauan merdu Kenari dan telah keluar dari persembunyiannya.
Kenari terus menyanyikan lantunan nadanya sembari berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk terus memancing anak Tupai yang masih saja penasaran mencoba mencari asal suara indah yang didengarnya. Sampai akhirnya tiba juga Kenari di pohon tempat Elang menunggunya dengan gelisah.
Rupanya Elang dari jauh juga memperhatikan bahwa usaha Kenari ternyata membuahkan hasil. Dengan kicauan lembut nan indah Kenari, anak Tupai justru datang dengan sendirinya. Dengan tanggapnya anak Tupai memanjat pohon tempatKenari dan Elang bertengger, dan dengan kemunculan anak Tupai di atas pohon otomatis Kenari lah yang memenangkan tantangan ini. Si anak Tupai yang tak tahu apa-apa, kebingungan mendapati Kenari tersenyum puas sementara di sisinya Elang memasang tampang kesal dan marah!
Suara lantang membahana, fisik yang besar kuat menakutkan... Terkadang bukan itulah yang mampu membantu kita untuk menaklukkan lingkungan di sekitar.
Kejelian dalam melihat peluang... Kecerdasan berpikir untuk memlih celah keputusan terbaik yang bisa kita pilih... Kelihaian memanfaatkan segala kelebihan dan kekurangan kita sebagai penyokong dalam membantu kita melewati lika-liku perjalanan dan persaingan hidup... Itulah arti kehebatan yang sebenarnya.
Kuat adalah otak bukan fisik. Otak mampu mengendalikan dan menguatkan fisik lemah sekalipun. Namun fisik sekuat apapun, belum tentu mampu menguatkan otak
x
Langganan:
Postingan (Atom)

